Yohanes' posts with tag: indonesia
Provinsi Bangka Belitung  Semula Bangka Belitung merupakan bagian dari Provinsi Sumatera Selatan. Karena proses pemekaran, kemudian menjadi provinsi sendiri.
Nama Provinsi : Bangka Belitung (sering disingkat menjadi Babel) Tanggal Berdiri (Hari Jadi) : 9 Februari 2002 Dasar Pembentukan : UU No. 27 Tahun 2000 Ibukota : Pangkal Pinang Luas Wilayah : ± 95,1 km² Letak Geografis : Terletak di Wilayah Pulau Sumatera Jumlah Daerah Tingkat II : 7 Kabupaten dan Kota Data dikutip dari: http://organisasi.org/informasi-profil-provinsi-kepulauan-bangka-belitung-babel-info-wilayah-negara-republik-indonesia Alamat Kantor Gubernur : Kompleks Perkantoran dan Pemukiman Terpadu Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kelurahan Air Itam, Pangkal Pinang Telepon : 0717-439325, 439327 Fax : 0717-439323 Email : Website : http://www.bangkabelitungprov.go.id Daerah Tingkat II nya:  1. Kabupaten Bangka 2. Kabupaten Bangka Barat 3. Kabupaten Bangka Tengah 4. Kabupaten Bangka Selatan 5. Kabupaten Belitung 6. Kabupaten Belitung Timur 7. Kota Pangkal Pinang Lambang Daerah :  Perisai Bersudut Lima, melambangkan Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kepulauan Bangka Belitung, melambangkan wilayah, masyarakat, sistem pemerintah, kebudayaan dan sumber daya alam Propinsi Kepulauan Bangka Belitung. Lingkaran Bulat Simetrikal, melambangkan kesatuan dan persatuan Propinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam menghadapi segala tantangan di tengah peradaban dunia yang semakin terbuka. Butir Padi berjumlah 27 buah melambangkan nomor dari Undang-undang pembentukan Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, yaitu UU No.27 Tahun 2000,dan Buah Lada, berjumlah 31 buah melambangkan Kepulauan Bangka Belitung merupakan Propinsi ke 31 dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Padi dan buah lada juga melambangkan kesejahteraan dan kemakmuran. Balok Timah, melambangkan kekayaan alam (hasil bumi pokok) berupa timah yang dalam sejarah secara social ekonomis telah menopang kehidupan masyarakat Propinsi Kepulauan Bangka Belitung selama lebih dari 300 tahun. (diketemukan dan dikelola sejak tahun 1710 oleh Mary Schommers dalam Bangka Tin) Biru Tua dan Biru Muda (Dalam Perisai dan Lingkaran Hitam), melambangkan bahari dunia kelautan dari yang dangkal sampai yang terdalam. Menyiratkan lautan dengan segala kekayaan alam yang ada di atasnya, di dalam dan di dasar lautan yang dapat dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat. Putih (Tulisan), melambangkan keteguhan dan perdamaian. Kuning ( Padi dan Semboyan), melambangkan ketentraman dan kekuatan. Hijau (Pulau dan Lada), melambangkan kesuburan. Hitam (Outline Lingkaran), melambangkan ketegasan. Serumpun Sebalai, menunjukan bahwa kekayaan alam dan plurarisme masyarakat Propinsi Kepulauan Bangka Belitung tetap merupakan keluarga besar komunitas (serumpun) yang memiliki perjuangan yang sama untuk menciptakan kesejahteraan, kemakmuran, keadilan dan perdamaian. Untuk mewujudkan perjuangan tersebut, dengan budaya masyarakat melayu berkumpul, bermusyawarah, mufakat, berkerjasama dan bersyukur bersama-sama dalam semangat kekeluargaan (sebalai) merupakan wahana yang paling kuat untuk dilestarikan dan dikembangkan. Nilai-nilai universal budaya ini juga dimiliki oleh beragam etnis yang hidup di Bumi Propinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dengan demikian, Serumpun Sebalai mencerminkan sebuah eksistensi masyarakat Propinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan kesadaran dan cita-citanya untuk tetap menjadi keluarga besar yang dalam perjuangan dan proses kehidupannya senantiasa mengutamakan dialog secara kekeluargaan, musyawarah dan mufakat serta berkerja sama dan senantiasa mensyukuri nikmat Tuhan untuk mencapai masyarakat adil dan makmur. Serumpun Sebalai, merupakan semboyan penegakan demokrasi melalui musyawarah dan mufakat. Tokoh yang berasal dari Bangka Belitung: Yusril Ihza Mahendra, D.N. Aidit, Andrea Hirata
Provinsi Lampung  Nama Provinsi : Lampung Tanggal Berdiri : 13 Februari 1964 Dasar Pendirian : UU No. 14 Tahun 1954 Ibukota : Bandar Lampung Luas Wilayah : ± 35.376,84 km² Letak Geografis : 3°-6° Lintang Selatan dan 103°-105° Bujur Timur Terletak di Pulau Sumatera Jumlah Daerah Tingkat II : 10 Kabupaten dan Kota Data dikutip dari : http://organisasi.org/informasi-profil-provinsi-lampung-info-daerah-yang-ada-di-negara-kesatuan-republik-indonesia Alamat Kantor Gubernur : Jalan R.W. Monginsidi 58, Bandar Lampung Telepon : 0721-260361 Fax : 0721-269640 Email : Website resmi : http://www.lampung.go.id Daerah Tingkat II nya :  1. Kabupaten Lampung Barat 2. Kabupaten Lampung Selatan 3. Kabupaten Lampung Tengah 4. Kabupaten Lampung Timur 5. Kabupaten Lampung Utara 6. Kabupaten Pesawaran (baru) 7. Kabupaten Tanggamus 8. Kabupaten Tulang Bawang 9. Kabupaten Way Kanan 10. Kota Bandar Lampung 11. Kota Metro Gambar diambil dari website industri Lambang Daerah : Sang Bumi Ruwa Jurai  Perisai persegi lima berarti kesanggupan mempertahankan cita-cita dan membina rumah tangga yang didiami oleh unsur golongan masyarakat untuk mencapai masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Pita Sang Bumi Ruwa Jurai : Sang Bumi = Rumah Tangga Agung yang berbilik-bilik. Ruwa Jurai = dua unsur golongan masyarakat yang berdiam di wilayah Provinsi Lampung. Aksara Lampung yang berbunyi “LAMPUNG”. Daun Lada 17 lembar melambangkan tanggal 17. Buah Lada 8 biji melambangkan bulan Agustus. Setangkai padi berjumlah 45 melambangkan tahun 1945. Dengan demikian ketiganya melambangkan hari kemerdekaan yaitu 17-8-1945. Biji Lada berjumlah 64 melambangkan terbentuknya Provinsi Lampung pada tahun 1964. Laduk melambangkan golok rakyat serba guna. Payam melambangkan tombak pusaka tradisional. Gong melambangkan alat seni budaya, sebagai pemberitahuan dimulainya karya besar dan sebagai alat menghimpun masyarakat untuk bermusyawarah. Siger melambangkan mahkota keagungan adat budaya dan tingkat kehidupan terhormat. Payung (jari payung ada 17, bagian ruas tepi ada 8 garis batas, ruas ada 19 dan rumbai payung ada 45) melambangkan Negara Republik Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17-8-1945. Kemudian payung jurai yang melambangkan Provinsi Lampung tempat semua jurai berlindung. Tiang dan bulatan puncak payung melambangkan satu cita membangun bangsa dan Negara Republik Indonesia dengan ridho Tuhan Yang Maha Esa. Warna hijau melambangkan dataran tinggi yang subur untuk tanaman musim. Warna coklat melambangkan dataran rendah yang subur untuk sawah dan ladang. Warna biru melambangkan kekayaan sungai dan lautan yang merupakan sumber perikanan dan kehidupan para nelayan. Warna putih melambangkan kesucian dan keikhlasan hati masyarakat. Warna kuning tua, muda, emas melambangkan keagungan dan kejayaan serta kebesaran cita dan masyarakat untuk membangun daerah dan negaranya. Pahlawan Daerah : Raden Inten II (1834-1856)  Dalam usia 16 tahun Raden Inten II dinobatkan sebagai Ratu di Lampung. Dengan gigih ia memimpin perlawanan terhadap Belanda. Berkali-kali Belanda mengirimkan pasukan untuk mematahkan perlawanan Raden Inten II namun selalu gagal. Belanda akhirnya menjalankan siasat licik dengan memperalat seorang bawahan Raden Inten II yang bernama Raden Ngerapat. Dengan bantuan Raden Ngerapat itu Belanda menyerbu pasukan Raden Inten II. Dalam pertempuran pada 5 Oktober 1856 itu beliau gugur pada usia 22 tahun.
Provinsi Sumatera Selatan Nama Provinsi : Sumatera Selatan Tanggal Berdiri : 14 Agustus 1960 Dasar Pendirian : UU No. 3 Tahun 1950 Ibukota : Palembang Luas Wilayah : ± 113.339 km² Letak Geografis : 1°-4° Lintang Selatan dan 102°-103° Bujur Timur Terletak di Pulau Sumatera Jumlah Daerah Tingkat II : 14 Kabupaten dan Kota Data dikutip dari : http://organisasi.org/informasi-profil-provinsi-sumatera-selatan-info-wilayah-negara-republik-indonesia Sejarah: Provinsi Sumatera Selatan sejak berabad yang lalu dikenal juga dengan sebutan Bumi Sriwijaya. Pada abad ke-7 hingga ke-12 wilayah ini merupakan pusat kerajaan Sriwijaya yang juga dikenal sebagai kerajaan maritim terbesar dan terkuat di Nusantara. Gaung dan pengaruhnya bahkan sampai ke Madagascar di benua Afrika. Sejak abad ke-13 hingga ke-14 wilayah ini berada di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit. Selanjutnya wilayah ini pernah menjadi daerah tak bertuan dan bersarangnya bajak laut dari mancanegara terutama dari negeri Cina. Pada awal abad ke-15 berdirilah Kesultanan Palembang yang berkuasa sampai datangnya kolonialisme barat, lalu disusul oleh penjajahan Jepang. Ketika masih berjaya, Kerajaan Sriwijaya juga menjadikan Palembang sebagai Kota Kerajaan. Menurut Prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan pada 1926, disebutkan bahwa pemukiman yang bernama Sriwijaya itu didirikan pada tanggal 17 Juni 683 Masehi. Tanggal tersebut kemudian menjadi hari jadi Kota Palembang yang diperingati setiap tahunnya. Kini Sumatera Selatan menjadi provinsi terpandang dengan sumber daya alam yang berlimpah. Daerah Tingkat II nya:
1. Kabupaten Banyuasin 2. Kabupaten Empat Lawang (pemekaran baru) 3. Kabupaten Lahat 4. Kabupaten Muara Enim 5. Kabupaten Musi Banyuasin (disingkat Muba) 6. Kabupaten Musi Rawas 7. Kabupaten Ogan Ilir 8. Kabupaten Ogan Komering Ilir (disingkat OKI) 9. Kabupaten Ogan Komering Ulu (disingkat OKU) 10. Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan 11. Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur 12. Kota Lubuklinggau 13. Kota Pagar Alam 14. Kota Palembang 15. Kota Prabumulih http://id.wikipedia.org/wiki/Provinsi_Sumatera_Selatan Lambang Daerah:
Atap rumah Sumatera Selatan berujung 17, dengan 8 baris dan 45 buah genteng, bunga teratai, batang hari sembilan, melambangkan hari kemerdekaan Republik Indonesia 17-8-1945. Bunga teratai adalah lambang keadilan berdasarkan Pancasila. Batang Hari Sembilan (nama lain dari Sumatera Selatan) adalah lambang kemakmuran. Jembatan Ampera adalah lambang kemajuan dan ciri khas kota Palembang. Gunung adalah lambang keperkasaan. Pahlawan Sumatera Selatan: Sultan Mahmud Badaruddin II (1768-1852)
Sultan Mahmud Badaruddin II (Raden Hasan) memenangkan pertempuran 3 hari 3 malam menghadapi pasukan bersenjata Belanda dan Inggris yang dibantu kapal perang Eendracht dan Ajax. Sultan kembali menang atas pasukan besar bantuan dari Batavia pimpinan Jendral Schubert dan Laksamana Wolterbeek. Serdadu Belanda dari Pulau Jawa di bawah pimpinan Jendral Baron de Kock dengan kekuatan penuh berhasil juga dikalahkan oleh perlawanan gigih rakyat Sumatera Bagian Selatan dan diabadikan sastrawan dalam syair perang menteng. Sayangnya Sultan Mahmud Badaruddin II terkena tipu muslihat Belanda yang mengundang untuk berunding di atas kapal perang Belanda yang mengakibatkan Sultan ditangkap, dan selanjutnya diasingkan ke Ternate sampai meninggalnya pada 22 November 1852.
Provinsi Bengkulu  Nama Provinsi : Bengkulu Tanggal Berdiri : 2 September 1967 Dasar Pendirian : UU No. 9 Tahun 1967 Ibukota : Bengkulu Luas Wilayah : ± 19.788 km² Letak Geografis : 5° Lintang Selatan dan 101° Bujur Timur Terletak di Pulau Sumatera Jumlah Daerah Tingkat II : 9 Kabupaten dan Kota Data diambil dari : http://organisasi.org/informasi-profil-provinsi-bengkulu-detail-daerah-wilayah-yang-ada-di-negara-indonesia Alamat Kantor Gubernur Provinsi Bengkulu Jalan Pembangunan No. 1, Padang Harapan, Bengkulu 38225 Telepon : 0736-21502 Fax : 0736-21502 Email : Website : www.bengkulu.go.id Daerah Tingkat II nya: 1. Kabupaten Bengkulu Selatan 2. Kabupaten Bengkulu Utara 3. Kabupaten Kaur 4. Kabupaten Kepahiang 5. Kabupaten Lebong 6. Kabupaten Muko-muko 7. Kabupaten Rejang Lebong 8. Kabupaten Seluma 9. Kota Bengkulu http://id.wikipedia.org/wiki/Provinsi_Bengkulu Gambar diambil dari website regional investment Lambang Daerah:  Lambang Daerah Provinsi Bengkulu berbentuk perisai. Di tengahnya terdapat perisai kecil yang di dalamnya terdapat gambar setangkai padi dan kopi bersama daunnya. Sedangkan di tengah-tengahnya terdapat bunga raflesia, rudus, cerana dan bintang baser. Di bagian bawah terdapat sebuah pita dengan tulisan “BENGKULU”. Warna hijau di bagian atas perisai mencerminkan daerah pegunungan Bukit Barisan dengan tanahnya yang subur sebagai batas tanah daerah Provinsi Bengkulu sebelah timur. Warna biru berombak dengan 18 gelombang berarti laut dengan sumber kekayaan sebagai batas daerah Provinsi Bengkulu sebelah barat. Dalam perisai kecil terdapat setangkai padi berwarna kuning dengan 17 bulir di sebelah kiri. Di sebelah kanan terdapat setangkai bunga kopi berwarna putih dan buah kopi berwarna hijau. Jumlahnya ada 8. Tulang daun kopi bagian atas berjumlah 4 garis, bagian bawah berjumlah 5 garis. Kesemuanya melambangkan hari proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, yaitu 17-8-45. Garis gelombang berjumlah 18 melambangkan tanggal 18. Daun kopi berjumlah 11 helai melambangkan bulan November. Bunga kopi setiap tangkai berjumlah 6 dan buah kopi berjumlah 8. Keseluruhannya adalah hari kelahiran Provinsi Bengkulu (18 November 1968). Buah padi dan kopi mencerminkan hasil utama di bidang pertanian dan perkebunan. Bunga raflesia arnoldi sebagai suatu keistimewaan alam daerah Provinsi Bengkulu. Bingkai berwarna emas yang mengitari lambang melukiskan salah satu sumber mineral di daerah Provinsi Bengkulu. Cerana melukiskan kebudayaan rakyat. Rudus 2 buah melambangkan kepahlawanan. Bintang besar pada pertemuan ujung padi dan kopi melambangkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dikutip dari: http://www.depdagri.go.id/konten.php?nama=Daerah&op=detail_provinsi&id_prov=3&dt=logo&nm_prov=Bengkulu Pahlawan Bengkulu: (sedang dicari)
Provinsi Jambi Nama Provinsi : Jambi Tanggal Berdiri : 2 Juli 1958 Dasar Pendirian : UU No. 61 Tahun 1958 Ibukota : Jambi Luas Wilayah : ± 54.436 km² Letak Geografis : 1°-3° Lintang Selatan dan 101°-104° Bujur Timur Terletak di Pulau Sumatera Jumlah Daerah Tingkat II : 10 Kabupaten dan Kota Data dikutip dari: http://organisasi.org/informasi-profil-provinsi-jambi-info-wilayah-daerah-negara-kesatuan-republik-indonesia-nkri Alamat Kantor Gubernur : Jalan A. Yani No. 1, Telanaipura, Jambi 36128 Telepon : 0741-66269 Fax : 0741-66269 Email : pemdajambi@yahoo.co.id Website : http://www.pempropjambi.go.id Daerah Tingkat II nya: 1. Kabupaten Batanghari 2. Kabupaten Bungo 3. Kabupaten Kerinci 4. Kabupaten Merangin 5. Kabupaten Muaro Jambi 6. Kabupaten Sarolangun 7. Kabupaten Tanjung Jabung Barat 8. Kabupaten Tanjung Jabung Timur 9. Kabupaten Tebo 10. Kota Jambi http://id.wikipedia.org/wiki/Provinsi_Jambi Gambar diambil dari website regionalinvestment Lambang Daerah  Lambang Daerah Tingkat I Provinsi Jambi berbentuk bidang dasar segi lima, menggambarkan lambang jiwa dan semangat Pancasila. Mesjid melambangkan ketuhanan dan keagamaan. Keris melambangkan kepahlawanan dan kejuangan. Gong melambangkan jiwa musyawarah dan demokrasi. http://www/depdagri.go.id/konten.php?nama=Daerah&op=detail_provinsi&id_prov=4&dt=logo&nm_prov=Jambi Pahlawan nasional : Sultan Thaha Syaifuddin (1816-1904) Dilahirkan di keraton Tanahpilih Jambi pada pertengahan tahun 1816. Ketika kecil ia biasa dipanggil Raden Thaha Ningrat. Beliau rendah hati dan suka bergaul dengan rakyat biasa. Pada pertempuran di Sungai Aro itu jejak Sultan Thaha tidak diketahui lagi oleh rakyat umum, kecuali oleh pembantunya yang sangat dekat. Sultan Thaha Syaifuddin meninggal pada tanggal 26 April 1904 dan dimakamkan di Muara Tebo.
Provinsi Riau Nama Provinsi : Riau Tanggal Berdiri : 25 Juli 1959 Dasar Pendirian : UU No. 61 Tahun 1958 Ibukota : Pekanbaru Luas Wilayah : ± 94.561 km² Letak Geografis : 1°31’-2°31’ Lintang Selatan dan 100°-105° Bujur Timur Terletak di Pulau Sumatera Jumlah Daerah Tingkat II : 11 Kabupaten dan Kota Data dikutip dari : http://organisasi.org/informasi-profil-provinsi-riau-info-detail-lengkap-wilayah-negara-republik-indonesia Kantor Gubernur Provinsi Riau Alamat: Jalan Jendral Sudirman No. 460, Pekanbaru Telepon : 0761-47367, 47368 Fax : 0761-33725 Email : info@riau.go.id Website : http://www.riau.go.id Daerah Tingkat II nya: 1. Kabupaten Bengkalis 2. Kabupaten Indragiri Hilir 3. Kabupaten Indragiri Hulu 4. Kabupaten Kampar 5. Kabupaten Kuantan Singingi 6. Kabupaten Pelalawan 7. Kabupaten Rokan Hulu 8. Kabupaten Rokan Hilir 9. Kabupaten Siak 10. Kota Dumai 11. Kota Pekanbaru Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau tercatat resmi mulai tanggal 1 Juli 2004, yang berarti mengurangi sebagian besar wilayah Provinsi Riau sebelumnya. Sumber dari http://id.wikipedia.org/wiki/Riau Arti Lambang Provinsi: (NB: Saya mencari gambar lambang Provinsi Riau yang resolusinya 800 x 600 atau lebih)
 Mata rantai tak terputus sejumlah 45 butir membentuk tameng. Memberi arti persatuan dan kesatuan bangsa yang telah diproklamasikan sejak tahun 1945. Di dalamnya berisi padi kapas, gelombang laut, keris dan lancang kuning, jenis kapal layar yang khas Daerah Riau. Padi kapas melambangkan kesejahteraan rakyat. Lancang kuning mengandung arti semangat rakyat Riau dengan hasil laut yang melimpah. Gelombang 5 lapis melambangkan Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia. Keris berhulu kepala burung serindit adalah lambang kepahlawanan rakyat Riau berdasarkan kebijaksanaan dan kebenaran. Pahlawan Riau: Tuanku Tambusai dan Raja Ali Haji. Dua tokoh yang sedang diusulkan menjadi pahlawan nasional ialah Tengku Sulung dan Sultan Zainal Abidin.
Provinsi Sumatera Barat  Nama Provinsi : Sumatera Barat Tanggal Berdiri : 3 Juli 1958 Dasar Pendirian : UU No. 61 Tahun 1958 Ibukota : Padang Luas Wilayah : ± 42.297 km² Letak Geografis : 0° Lintang Utara – 2° Lintang Selatan dan 98°-102° Bujur Timur Terletak di Pulau Sumatera Jumlah Daerah Tingkat II : 19 Kabupaten dan Kota Data dikutip dari : http://organisasi.org/informasi-profil-provinsi-sumatra-barat-sumbar-sumatera-barat-wilayah-negara-republik-indonesia Provinsi Sumatera Barat Alamat Kantor Gubernur : Jalan Jendral Sudirman No. 15, Padang Telepon : 0751-32020, 34171 Fax: 0751-32033, 34671 Email : - Website: http://www.sumbarprov.go.id Daerah Tingkat II nya: 1. Kabupaten Agam 2. Kabupaten Dharmasyara 3. Kabupaten Lima Puluh Koto 4. Kabupaten Kepulauan Mentawai 5. Kabupaten Padang Pariaman 6. Kabupaten Pasaman 7. Kabupaten Pasaman Barat 8. Kabupaten Pesisir Selatan 9. Kabupaten Sijunjung (dahulu bernama Sawahlunto Sijunjung) 10. Kabupaten Solok 11. Kabupaten Solok Selatan 12. Kabupaten Tanah Datar 13. Kota Bukittinggi 14. Kota Padang 15. Kota Padang Panjang 16. Kota Pariaman 17. Kota Payakumbuh 18. Kota Sawahlunto 19. Kota Solok http://id.wikipedia.org/wiki/Sumatra_Barat Lambang Provinsi Sumatera Barat:
 Rumah Gadang, adalah lambang semangat demokrasi. Atap Masjid, adalah lambang tumbuh kuatnya agama Islam di Sumatera Barat. Bintang, adalah lambang Ketuhanan Yang Maha Esa. Riak Gelombang, adalah lambang dinamika. Tuah Sakato, adalah lambang kesepakatan untuk melaksanakan hasil mufakat rakyat. Sejarah Sumatera Barat (Minangkabau) Dahulu Sumatera Barat merupakan bagian inti dari Kerajaan Pagaruyung. Pada jaman kolonial Hindia Belanda, daerah ini tergabung dalam Governement Sumatra’s Westkust yang juga mencakup daerah Tapanuli. Sejak 1906 wilayah Tapanuli dipisahkan menjadi Residentie Tapanuli, sedangkan wilayah Kerinci kemudian digabung ke dalam Sumatra’s Westkust. Pada awal kemerdekaan Indonesia, wilayah Sumatera Barat tergabung dalam Provinsi Sumatera yang berpusat di Medan. Provinsi Sumatera kemudian dipecah menjadi tiga, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan. Sumatera Barat bersama dengan Jambi dan Riau merupakan residensi-residensi di dalam Provinsi Sumatera Tengah. Berdasarkan Undang-undang Darurat Nomor 19 tahun 1957, Sumatera Tengah kemudian dipecah lagi menjadi Sumatera Barat, Jambi dan Riau. Wilayah Kerinci yang sebelumnya tergabung dalam residensi Sumatera Barat kemudian digabungkan dalam Provinsi Jambi. Pada awalnya ibukota Provinsi Sumatera Barat adalah Bukittinggi, tetapi kemudian dipindahkan ke Padang. Pahlawan Sumatera Barat Abdoel Moeis Lahir di Solok 3 Juli 1883 dan meninggal di Bandung 17 Juni 1959. Abdoel Moeis adalah seorang sastrawan dan wartawan. Pendidikan terakhirnya menamatkan Stovia (sekolah kedokteran, sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia). Ia juga seorang nasionalis dan pernah menjadi anggota Volksraad.
Abdoel Moeis berjuang tidak dengan senjata melainkan lewat tulisan-tulisannya. Hasil karyanya antara lain: Salah Asuhan (novel 1928) Pertemuan Jodoh (novel 1933) Surapati (novel 1950) Robert Anak Surapati (novel 1953) Hasil terjemahannya: Don Kisot (karya Cervantes) Tom Sawyer Anak Amerika (karya Mark Twain) Sebatang Kara (karya Hector Malot)
Provinsi Sumatera Utara  Nama Provinsi : Sumatera Utara Tanggal Berdiri : 7 Desember 1956 Dasar Pendirian : UU No. 24 Tahun 1956 Ibukota : Medan Luas Wilayah : ± 71.680 km² Letak Geografis : 1°-4° Lintang Utara dan 89°-100° Bujur Timur Terletak di Pulau Sumatera Jumlah Daerah Tingkat II : 28 Kabupaten / Kota Data dikutip dari : http://organisasi.org/informasi-profil-provinsi-sumatera-utara-sumut-info-wilayah-negara-republik-indonesia Provinsi Sumatera Utara Alamat Kantor Gubernur : Jalan P. Diponegoro No. 30, Medan Telepon : 061-4512315, 4153300 Fax : ? Email : bappedasu@sumutprov.go.id Website : http://sumutprov.go.id atau http://www.pempropsu.go.id Daerah Tingkat II nya (ada 28 dan mungkin akan menjadi 29) 1. Kabupaten Asahan 2. Kabupaten Batu Bara 3. Kabupaten Dairi 4. Kabupaten Deli Serdang 5. Kabupaten Humbang Hasundutan (disingkat Humbahas) 6. Kabupaten Karo 7. Kabupaten Labuhan Batu 8. Kabupaten Langkat 9. Kabupaten Mandailing Natal (disingkat Madina) 10. Kabupaten Nias 11. Kabupaten Nias Selatan 12. Kabupaten Padang Lawas (baru) 13. Kabupaten Padang Lawas Utara (baru) 14. Kabupaten Pakpak Bharat 15. Kabupaten Samosir 16. Kabupaten Serdang Bedagai 17. Kabupaten Simalungun 18. Kabupaten Tapanuli Selatan (disingkat Tapsel) 19. Kabupaten Tapanuli Tengah (disingkat Tapteng) 20. Kabupaten Tapanuli Utara (disingkat Taput) 21. Kabupaten Toba Samosir (disingkat Tobasa) 22. Kota Binjai 23. Kota Medan 24. Kota Padang Sidempuan 25. Kota Pematang Siantar 26. Kota Sibolga 27. Kota Tanjung Balai 28. Kota Tebing Tinggi 29. (sedang direncanakan) Kabupaten Angkola Sipirok Data dikutip dari : http://id.wikipedia.org/wiki/Sumatera-Utara Peta diambil dari website KPU
Lambang Provinsi Sumatera Utara (NB: Saya mencari gambar dengan resolusi 800 x 600º atau lebih besar lagi agar lebih jelas detilnya.) Arti lambang:
Kepalan tangan yang diacungkan ke atas dengan menggenggam rantai beserta perisainya melambangkan kebulatan tekad perjuangan rakyat Provinsi Sumatera Utara melawan imperialisme, kolonialisme, feodalisme dan komunisme. Batang bersudut lima, perisai dan rantai melambangkan kesatuan masyarakan dalam membela dan mempertahankan Pancasila. Pabrik, pelabuhan, pohon karet, pohon sawit, daun tembakau, ikan, daun padi dan tulisan “SUMATERA UTARA” melambangkan daerah yang indah permai masyhur dengan kekayaan alamnya yang berlimpah-limpah. Tujuh belas kuntum kapas, delapan sudut sarang laba-laba dan empat puluh lima butir padi menggambarkan tanggal, bulan dan tahun kemerdekaan negara Republik Indonesia. Tongkat di bawah kepalan tangan melambangkan watak kebudayaan yang mencerminkan kebesaran bangsa, patriotisme, pencinta dan pembela keadilan. Bukit Barisan yang berpuncak lima melambangkan tata kemasyarakatan yang berkepribadian luhur, bersemangat persatuan, kegotongroyongan yang dinamis. Motto daerah adalah Tekun Berkarya, Hidup Sejahtera, Mulia Berbudaya. Dikutip dari http://sumutprov.go.id/ongkam.php?me=lambang Sekilas Sumatera Utara Undang-Undang Nomor 10 tahun 1948 tanggal 15 April 1948 membagi Pulau Sumatera menjadi 3 provinsi yaitu Sumatera Utara, Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan. Awal tahun 1949 diadakan reorganisasi pemerintahan di Sumatera. Terakhir tanggal 7 Desember 1956 diundangkan Undang-Undang Nomor 24 tahun 1956 yang intinya mengubah Provinsi Sumatera Utara menjadi Provinsi Aceh dan Provinsi Sumatera Utara. Provinsi Sumatera Utara yang mempunyai 419 pulau juga mempunyai berbagai ragam suku bangsa antara lain:
Melayu Deli yang mendiami daerah pesisir timur Batak Toba yang mendiami sekitar Danau Toba, Pulau Samosir dan pesisir barat Batak Karo yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Langkat, Binjai dll Batak Pakpak yang mendiami daerah Pakpah Bharat dan Dairi Batak Simalungun yang mendiami daerah Simalungun Batak Mandailing yang mendiami daerah Tapanuli Selatan Suku Nias yang mendiami pulau-pulau Nias Dan juga dengan suku-suku pendatang lainnya. Agamanya juga bermacam-macam. Mayoritas suku Toba dan Nias beragama nasrani, sedangkan suku Mandailing dan Melayu kebanyakan beragama Islam. Pahlawan yang terkenal dari daerah Sumatera Utara adalah Raja Sisingamangaraja XII  Riwayat singkatnya: Sisingamangaraja XII dinobatkan menjadi Raja Batak pada usia 19 tahun. Sampai tahun 1886 hampir seluruh Sumatera sudah dikuasai oleh Belanda kecuali Aceh dan Tanah Batak yang masih berada dalam situasi merdeka dan damai. Tahun 1837 Belanda memadamkan Perang Paderi. Minangkabau jatuh ke tangan Belanda. Menyusul kemudian adalah daerah Natal, Mandailing, Barumun, Padak Bolak, Angkola, Sipirok, Pantai Barus dan kawasan Sibolga. Karena itu sejah tahun 1837 Tanah Batak terpecah menjadi dua bagian yaitu daerah-daerah yang telah direbut Belanda dan daerah lain yang belum dikuasai Belanda dan masih diakui oleh Belanda sebagai “Tanah Batak yang merdeka.” Pada tahun 1873 Belanda menyatakan perang kepada Aceh dan tentaranya mendarat di pantai-pantai Aceh. Tiga tahun kemudian Belanda mencaplok daerah Silindung/Tarutung. Walaupun daerah tersebut bukan wilayah kekuasaan Raja Sisingamangaraja XII, namun beliau mengetahui siasat Belanda, yang cepat atau lambat pasti akan mencaplok wilayahnya juga. Oleh karena itu beliau mengadakan sebuah rapat raksasa di Pasar Balige pada bulan Juni 1876 dan dalam rapat tersebut diambil tiga keputusan penting yaitu: 1. Menyatakan perang terhadap Belanda 2. Zending agama tidak diganggu 3. Menjalin kerja sama Batak dan Aceh untuk sama-sama melawan Belanda. Tahun 1877 mulailah perang Batak yang terkenal itu, yang berlangsung 30 tahun lamanya. Tahun 1882 hampir seluruh daerah Balige telah dikuasai oleh Belanda. Tahun 1883 Laguboti dan Toba jatuh ke tangan Belanda. Pada tahun ini Belanda benar-benar mengerahkan seluruh kekuatannya dan Sisingamangaraja XII beserta para panglimanya juga bertarung dengan gigih. Pada tanggal 12 Agustus 1883, Bakara, tempat istana dan markas besar Sisingamangaraja XII berhasil direbut oleh Belanda. Sisingamangaraja XII mengundurkan diri ke Dairi bersama keluarganya dan pasukannya yang setia. Pada tahun itulah Gunung Krakatau meletus. Awan hitamnya meliputi Tanah Batak seolah-oleh menjadi firasat buruk. Sisingamangaraja gugur pada tanggal 17 Juni 1907.
Diringkas dari http://www.silaban.net/2006/06/22/riwayat-singkat-raja-sisingamangaraja-xii/
Terkadang saya merasa diri saya lebih tahu banyak negara (walaupun belum pernah melancong) dibandingkan pengetahuan mengenai dalam negeri.Oleh karena itu saya ingin mendalami pengetahuan saya tentang negeri kita ini satu per satu. Tentunya dengan harapan apabila ada data yang kurang atau kurang tepat, ada teman yang mau menambah atau mengoreksinya. Kali ini saya mulai dari provinsi yang paling ujung. Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (dahulu bernama Daerah Istimewa Aceh)  Nama Provinsi : Nanggroe Aceh Darussalam Tanggal Berdiri : 7 Desember 1959 Dasar Pendirian : UU No. 24 Tahun 1956 (UU No. 18 Tahun 2001 mengubah nama Provinsi Daerah Istimewa Aceh menjadi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam) Ibukota : Banda Aceh Luas Wilayah : ± 57.365,57 km² Letak Geografis : 2°-6° Lintang Utara dan 95°-98° Bujur Timur Terletak di Pulau Sumatera Jumlah Daerah Tingkat II : 23 Kabupaten / Kota Lambang Provinsi : Pancacita Data dikutip dari : http://organisasi.org/profil-provinsi-nangro-aceh-darussalam-daerah-istimewa-aceh-nad-pengetahuan-umum-indonesia Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Alamat Kantor Gubernur: Jalan T. Nyak Arief No. 219, Banda Aceh Telepon: 0651-51377 Fax: 0651-32386 Email: bpde@nad.go.id Website: http://www.nad.go.id/ Daerah Tingkat II nya: 1. Kabupaten Aceh Barat 2. Kabupaten Aceh Barat Daya 3. Kabupaten Aceh Besar 4. Kabupaten Aceh Jaya 5. Kabupaten Aceh Selatan 6. Kabupaten Aceh Singkil 7. Kabupaten Aceh Tamiang 8. Kabupaten Aceh Tengah 9. Kabupaten Aceh Tenggara 10. Kabpuaten Aceh Timur 11. Kabupaten Aceh Utara 12. Kabupaten Bener Meriah 13. Kabupaten Bireuen 14. Kabupaten Gayo Lues 15. Kabupaten Nagan Raya 16. Kabupaten Pidie 17. Kabupaten Pidie Raya 18. Kabupaten Simeulue 19. Kota Banda Aceh 20. Kota Langsa 21. Kota Lhokseumawe 22. Kota Sabang 23. Kota Subulussalam (NB: Pada peta wilayah di atas belum ada Kabupaten Pidie Raya dan Kota Subulussalam karena keduanya merupakan pemekaran yang terbaru.) Data dikutip dari : http://id.wikipedia.org/wiki/Nanggroe_Aceh_Darussalam Gambar dikutip dari website KPU Lambang Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam: Pancacita (Lima Tujuan) (NB: Saya mencari gambar dengan resolusi 800 x 600 atau lebih besar lagi agar lebih jelas detilnya.) Arti lambang: Lambang Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam diambil dari Kupiah Aceh berbentuk segi lima yang mengisyaratkan falsafah hidup rakyat dan Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang disebut Pancacita. Dacing melambangkan keadilan. Rencong melambangkan kepahlawanan. Padi, lada, kapas dan cerobong melambangkan kemakmuran. (padi sebagai bahan pangan pokok; lada sebagai kekayaan utama Aceh di masa lampau; kapas sebagai bahan sandang utama; cerobong sebagai lambang industrialisasi). Kubah mesjid melambangkan keagamaan. Kitab dan kalam melambangkan ilmu pengetahuan (kesejahteraan). Warna putih melambangkan kemurnian. Warna kuning melambangkan kejayaan. Warna hijau melambangkan kesejahteraan dan kemakmuran. Dikutip dari http://www.nad.go.id/index.php?option=isi&task=view&id=4&Itemid=31 Sekilas Nanggroe Aceh Darussalam Aceh atau yang resminya disebut Nanggroe Aceh Darussalam adalah sebuah Daerah Istimewa yang terletak di Pulau Sumatera. Provinsi yang sering juga disebut Serambi Mekah ini terletak di barat laut Sumatera dengan kawasan seluas 57.365,57 km persegi atau merupakan 12,26% dari Pulau Sumatera. Aceh memiliki 119 buah pulau, 73 sungai yang besar dan 2 buah danau. Aceh dikelilingi Selat Malaka di sebelah utara, Provinsi Sumatera Utara di timur, dan Lautan Hindia di selatan dan barat. Ibukota Aceh adalah Banda Aceh yang dulunya dikenal sebagai “Kutaraja.” Sejarah Babad Cina abad 6 sebelum Masehi telah menyatakan keberadaan sebuah kerajaan di ujung utara Pulau Sumatera yang mereka kenali sebagai Po-Li. Naskah Arab dan India kurun ke-9 juga telah mengatakan hal yang sama. Dibanding dengan kawasan-kawasan Indonesia yang lain, Aceh merupakan daerah pertama yang mempunyai hubungan langsung dengan dunia luar. Marco Polo, pada tahun 1292, sewaktu dalam pelayaran ke Parsi dari Cina, telah singgah ke Sumatera. Beliau melaporkan terdapat enam pelabuhan yang sibuk di bagian utara pulau tersebut. Mereka termasuk pelabuhan Peureulak, Samudera dan Lambri. Kerajaan Islam yang pertama kali berdiri di Aceh adalah Kerajaan Perlak pada tahun 804, lebih 100 tahun setelah Islam tiba di Nusantara. Pembuatan pelabuhan di Malaka oleh Portugis pada tahun 1511 telah menyebabkan ramai pedagang Arab dan India memindahkan perdagangan mereka ke Aceh. Kedatangan mereka membawa kekayaan dan kemakmuran kepada Aceh, dan menandakan bermulanya dominasi Aceh dalam perdagangan dan politik di utara Sumatera khususnya dan Nusantara pada umumnya. Keadaan ini mencapai puncaknya antara tahun 1610 dan 1640. Agama Mayoritas penduduk di Provinsi NAD memeluk agama Islam. Selain itu Provinsi NAD memiliki keistimewaan dibandingkan dengan provinsi lain, karena di provinsi ini diberlakukan Syariat Islam kepada warga yang menganut agama Islam. Bahasa Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Aceh dan Bahasa Indonesia Demografi Penduduk Aceh merupakan keturunan berbagai suku, kaum dan bangsa. Bentuk fisik mereka menunjukkan ciri-ciri orang Nusantara, Cina, Eropa dan India. Leluhur orang Aceh dikatakan telah datang dari Semenanjung Malaysia, Champa, Cochin China dan Kamboja. Aceh sering dianggap sebagai singkatan dari Arab, Cina, Eropa, dan Hindustan (Hindia). Kumpulan etnik yang terdapat di Aceh adalah: Orang Aceh (terdapat di seluruh wilayah Aceh) Orang Gayo (di Aceh Tengah, sebagian Aceh Timur, Bener Meriah dan Gayo Lues) Orang Alas (di Aceh Tenggara) Orang Tamiang (di Aceh Tamiang) Orang Aneuk Jamee (di Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya) Orang Kluet (di Aceh Selatan) Orang Simeulue (di Pulau Simeulue) Di Aceh juga banyak orang keturunan Arab. Dan juga ada sebuah suku bangsa keturunan Eropa di wilayah Aceh Jaya. Mereka beragama Islam dan dipercayai adalah keturunan dari laskar Portugis yang telah memeluk agama Islam, mengamalkan budaya Aceh dan hanya bertutur dalam bahasa Aceh dan bahasa Indonesia. Pahlawan-pahlawan Aceh semasa penjajahan Belanda: - Teuku Umar
- Panglima Polem
- Pocut Baren
- Laksamana Keumalahayati
- Pocut Meurah Intan
- Teuku Nyak Arief
- Teungku Fakinah
- Teungku Chik Ditiro
- Cut Nyak Dhien
- Cut Nyak Meutia
- Teuku Chik Di Tunong
Teuku Umar  Salah satu dari sekian banyak Pahlawan Nasional yang patut diteladani yaitu Teuku Umar. Dia merupakan seorang pahlawan pejuang melawan kolonialisme Belanda di Aceh yang berlangsung sejak 1873 hingga menjelang masuknya Jepang ke Indonesia tahun 1942. Sedangkan perjuangan Teuku Umar berlangsung dari tahun 1875 sampai 1899. Teuku Umar dilahirkan di Meulaboh, Aceh Barat pada tahun 1854. Ayahnya bernama Achmad Mahmud yang berasal dari keturunan uleebalang Meulaboh. Nenek moyang Teuku Umar berasal dari keturunan Minangkabau, yaitu Datuk Makudum Sati yang pernah berjasa terhadap Sultan Aceh yang terancam oleh seorang Panglima Sagi yang ingin merebut kekuasaannya. Datuk Makdum Sati mempunyai dua orang putera yaitu Nanta Setia dan Achmad Mahmud. Ketika masih kecil Umar merupakan anak yang nakal tetapi sangat cerdas. Dia sangat suka berkelahi dengan teman sepermainannya. Umar pernah diangkat sebagai kepala kelompok anak-anak yang ada di kampungnya. Setelah menginjak masa remaja sifat Umar mulai berubah. Jiwa kerakyatannya mulai timbul dalam dirinya dan ia mempunyai cita-cita dan rasa kemerdekaan yang meresap dalam tulang sumsumnya. Ketika perang Aceh meletus pada tahun 1873 Umar baru berumur 19 tahun. Umar belum ikut dalam perang ini di samping usianya masih sangat belia dan juga jiwanya belum mantap walaupun pada saat itu dia sudah diangkat menjadi Keuchik di daerah Daya Meulaboh. Ketika umur 20 tahun Umar menikah dengan Nyak Sopiah, anak Uleebalang Glumpang. Ia semakin dihormati dan disegani karena mempunyai sifat yang keras dan pantang menyerah dalam menyelesaikan setiap persoalan hidup. Untuk lebih menaikkan derajatnya, Umar menikah lagi dengan Nyak Malighai, seorang puteri dari Panglima Sagi XXV Mukim. Mulai saat itu Umar memakai gelar Teuku dan bercita-cita untuk membebaskan daerahnya dari kekuasaan Belanda. Umar tidak pernah memperoleh pendidikan sekolah seperti pemimpin-pemimpin lainnya, tetapi ia dapat menjadi pemimpin yang cakap, disiplin dan mempunyai kemauan yang keras. Setelah Teuku Ibrahim Lamnga gugur dalam perang melawan Belanda pada tahun 1878, isterinya (Cut Nyak Dhien) menjadi janda. Teuku umar selalu memberi perhatian khusus kepada Cut Nyak Dhien. Sifat keprajuritan yang dimiliki oleh Cut Nyak Dhien yang membuat Teuku Umar diam-diam jatuh cinta kepada Cut Nyak Dhien. Cut Nyak Dhien juga menyambut cinta dari Teuku Umar dan akhirnya mereka menikah. Dari perkawinan Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien lahirlah seorang anak perempuan yang diberi nama Cut Gambang. Anak ini lahir di tempat pengungsian yang jauh dari kampung halamannya karena pada saat itu Teuku Umar sedang memimpin pertempuran melawan Belanda dan rumahnya yang ada di Montasik sudah dikuasai oleh Belanda.
Tamang-tamang, kita baru saja aplot ni lagu di youtube ( http://youtube.com/watch?v=uOXU4oaNwQE ), selamat menikmati, tapi paling sadap kalo ngana mau ajak kita makang tinutuan. Import.flv (9.8 MB)
|  | Most people from America, Europe or even Africa in fact do not know Indonesia or where it is. Some people ask silly question such as "Where is Indonesia compared to Bali?"
I say no, Bali is a part of the Indonesian country.
|
Dalam pertemuan SEMBARI MINUM KOPI yang diselenggarakan oleh Mbak Tita (lihat http://suluhpratita.multiply.com/journal/item/145 ) ada salah satu pengunjung yang mempertanyakan "Orang asing sering tidak tahu Indonesia, dan sering terjadi pertanyaan menggelikan yaitu Indonesia itu di sebelah mananya Bali." Memang ternyata nama Indonesia itu di luaran sana kurang terkenal, kalah dengan nama Bali. Jadi ya tugas kitalah untuk memperkenalkan negara yang kita cintai dan kita banggakan ini. (He kalian cinta dan bangga nggak sih sama negara kita ini?) Sekitar setahun yang lalu, ketika anak saya Relly mau ke Amrik dalam rangka pertukaran pelajar yang diselenggarakan oleh Rotary International, bingunglah dia ketika mau menyiapkan presentasi tentang Indonesia. Untung bapaknya seorang nasionalis (ck ck ck) jadi dibuatkanlah sebuah presentasi (PPS) sekilas tentang Indonesia. Slide show tersebut saya upload dalam bagian foto http://yohanesss.multiply.com/photos/album/156 . Silakan lihat dan boleh dikutip secara gratis lha wong gambar-gambarnya itu dulu juga saya peroleh dari website kok. Oh ya, pada waktu itu saya belum bisa mendapatkan lambang provinsi Sulawesi Barat dan Irian Jaya Barat karena baru saja dibentuk. Mari kita majukan negara kita ini. Salam.
| |